Ontologi PGMI

Ontologi PGMI
Oleh Mira Sari
mirasaripiliang@gmail.com

ABSTRAK
Ontology is built from the greek roots “Ontos”which means what exists and “Logos” which mens the study. Globally, the term ontology can be interpreted as a study of being and by extension of existence. Ontology studies is the actual state of something, not a temporary state that is always changing. Ontology is an analysis of material objects from science, namely empirical matters that discuss about what you want to know, analyze about the objects studied by science, what is the actual form of the object, how the relationship between these objects with human capture (for example: thinking, feeling and sensing) that produces knowledge.
Keywoard: philosophy of science

ABSTRAK
Ontologi merupakan analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan. Berisi mengenai hal-hal yang bersifat empiris serta mempelajari mengenai apa yang ingin diketahui manusia dan objek apa yang diteliti. Dasar ontologi pendidikan adalah objek materi pendidikan yaitu sisi yang mengatur seluruh kegiatan pendidikan. Dengan kata lain, ontologi membahas apa yang ingin diketahui mengenai teori tentang “ada“ dengan perkataan lain bagaimana hakikat obyek yang ditelaah sehingga membuahkan pengetahuan. Secara ontologis, pendidikan Islam merupakan hakikat dari kehidupan manusia sebagai makhluk berpikir, merasa, mengindra, dan bertindak. Selanjutnya pendidikan sebagai usaha pengembangan potensi-potensi diri manusia, dijadikan sarana untuk mendidik dan mengembangkannya. Ontologi pendidikan Islam menyelami hakikat dari pendidikan Islam, kenyataan dalam pendidikan Islam dengan segala pola organisasi yang melingkupinya, meliputi hakikat pendidikan Islam dan ilmu pendidikan Islam, hakikat tujuan pendidikan Islam, hakikat manusia sebagai subjek pendidikan yang ditekankan kepada pendidik dan peserta didik, dan hakikat kurikulum pendidikan Islam. 
Kata Kunci: Filsafat Ilmu



PENDAHULUAN
Pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Berbedanya cara dalam mendapatkan pengetahuan tersebut serta tentang apa yang dikaji oleh pengetahuan tersebut membedakan antara jenis pengetahuan yang satu dengan yang lainnya. Pengetahuan dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran. Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan melalui suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses penarikannya dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, di mana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara sahih”. Pengetahuan banyak jenisnya, salah satunya adalah ilmu.

Kajian Ontologi PGMI
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni Monisme, Dualisme, Materialisme, Idealisme, Agnostisisme Monisme: aliran yang mempercayai bahwa hakikat dari segala sesuatu yang ada adalah satu saja, baik yang asa itu berupa materi maupun rohani yang menjadi sumber dominan dari yang lainnya. Para filosof pra-Socrates seperti Thales, Demokritos, dan Anaximander termasuk dalam kelompok Monisme, selain juga Plato dan Aristoteles. Sementara filosof Modern seperti Kant dan Hegel adalah penerus kelompok Monisme, terutama pada pandangan Idealisme mereka. Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan-lapangan penyelidikan filsafat yang paling kuno. Pertama kali diperkenalkan oleh filosof Yunani bernama Thales atas pernungannya terhadap air yang terdapat dimana-mana, dan sampai pada kesimpulan bahwa “air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu”. Yang penting bagi kita bukanlah mengenai kesimpulannya tersebut melainkan pendiriannya bahwa mungkin segala sesuatu berasal dari satu substansi saja.
Dualisme: kelompok ini meyakini sumber asal segala sesuatu terdiri dari dua hakikat, yaitu materi(jasad) dan jasmani(spiritual). Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri, sama-sama abadi dam azali. Perhubungan antara keduanya itulah yang menciptakan kehidupan dalam alam ini. Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakikat ini ialah dalam diri manusia. Descartes adalah contoh filosof Dualis dengan istilah dunia kesadaran (rohani) dan dunia ruang (kebendaan). Aristoteles menamakan kedua hakikat itu sebagai materi dan forma (bentuk yang berupa rohani saja). Umumnya manusia dengan mudah menerima prinsip dualisme ini, karena kenyataan lahir dapat segera ditangkap panca indera kita, sedangkan kenyataan batin dapt segera diakui adanya dengan akal dan perasaan hidup.
Materialisme: aliran ini menganggap bahwa yang ada hanyalah materi dan bahwa segala sesuatu yang lainnya yang kita sebut jiwa atau roh tidaklah merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri. Menurut pahan materialisme bahwa jiwa atau roh itu hanyalah merupakan proses gerakan kebendaan dengan salah satu cara tertentu. Materialisme terkadang disamakan orang dengan naturalisme.Namun sebenarnya terdapat perbedaan antara keduanya. Naturalisme merupakan aliran filsafat yang menganggap bahwa alam saja yang ada, yang lainnya di luar alam tidak ada. (Tuhan yang di luar alam tidak ada). Sedangkan yang dimaksud alam (natural) disana ialah segala-galanya meliputi benda dan roh. Sebaliknya materialisme menganggap roh adalah kejadian dari benda, jadi tidak sama nilainya dengan benda.
Ontologi merupakan analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan. Berisi mengenai hal-hal yang bersifat empiris serta mempelajari mengenai apa yang ingin diketahui manusia dan objek apa yang diteliti. Dasar ontologi pendidikan adalah objek materi pendidikan yaitu sisi yang mengatur seluruh kegiatan pendidikan. Dengan kata lain, ontologi membahas apa yang ingin diketahui mengenai teori tentang “ada“ dengan perkataan lain bagaimana hakikat obyek yang ditelaah sehingga membuahkan pengetahuan. Secara ontologis, pendidikan Islam merupakan hakikat dari kehidupan manusia sebagai makhluk berpikir, merasa, mengindra, dan bertindak. Selanjutnya pendidikan sebagai usaha pengembangan potensi-potensi diri manusia, dijadikan sarana untuk mendidik dan mengembangkannya. Ontologi pendidikan Islam menyelami hakikat dari pendidikan Islam, kenyataan dalam pendidikan Islam dengan segala pola organisasi yang melingkupinya, meliputi hakikat pendidikan Islam dan ilmu pendidikan Islam, hakikat tujuan pendidikan Islam, hakikat manusia sebagai subjek pendidikan yang ditekankan kepada pendidik dan peserta didik, dan hakikat kurikulum pendidikan Islam. Berdasarkan uraian di atas maka dalam penelitian ini mengkaji denagn kajian literatur yang membahas pentingnya topik dan Ada keberkaitan erat antara 
kajian mengenai pengetahuan dan kajian mengenai bahasa sebagai media untuk mengungkapkan apa yang diketahui. Para filsuf umumnya tertarik untuk membahas hubungan antara pikiran, kata dan realitas. Sebagian dari mereka telah tiba pada sebuah kesimpulan bahwa ternyata kata-kata berada di persimpangan jalan: apakah ia ingin mencerminkan apa yang ada di dalam pikiran ataukah ia ingin mencerminkan apa yang ada di dalam realitas. Kemudian bagaimana cara membedakan antara kalimat (proposisi) yang benar dari kalimat yang keliru. Analisis gramatikal berhenti hanya sebatas hubungan antara kalimat dengan kaidah-kaidah gramatikal sebagai uji kebenaran suatu proposisi. Tetapi bagaimana menguji kebenaran isi (properti, esensi, substansi) suatu proposisi? Banyak teori filosofis yang dikemukakan namun tetap saja bahwa seperti hal pikiran merupakan suatu misteri, kata-kata dan kalimat juga membentuk misterinya sendiri. Pertanyaan mendasar yang berkaitan dengan pikiran dan karakteristika objek pikiran dapat berupa “Apa sebenarnya objek pikiran itu?” Proposisi “Aku sedang berpikir tentang unicorn” jelas menunjukkan adanya objek tertentu yang sedang dipikirkan. Teori tentang objek-objek yang ada (subsistent objects) memberikan sebuah jawaban alternatif dan tampaknya didasarkan atas pertimbangan bahwa kita tengah berpikir mengenai sesuatu saat kita berpikir mengenai unicorn. Tetapi G.E. Moore menolak gagasan ini. Menurutnya, teori subsistent objects telah gagal dalam membedakan antara bentuk logika dan gramatika dari pernyataan semacam “Aku tengah berpikir tentang unicorn” dan “Aku tengah berburu singa.” Propisisi yang pertama berisi objek pemikiran yang tidak ada di dalam realitas (unicorn) sedangkan prosisi yang kedua berisi “sesuatu” (singa) yang ada di dalam realitas. Keberadaan dipandang dari segi jumlah (Kuantitas), artinya berapa banyak kenyataan yang paling dalam itu. Pandangan ini malahirkan beberapa aliran filasafat sebagai jawabannya, yaitu sebagai berikut. a. Monisme, Aliran yang menyataknan bahwa hanya satu kenyataan yang fundamental. Kenyataan tersebut dapat berupa jiwa, materi, Tuhan atau subtansi lainnya yang tidak dapat diketahui. Tokohnya antara lain: Thales yang berpendapat bahwa kenyataan yang terdalam adalah sebuah subtansi, yaitu air. Aniximander berkeyakinan bahwa yang merupakan kenyataan terdalam adalah Aperion, yaitu sesuatu yang tanpa batas, tidak dapat ditentukan dan tidak memiliki persamaan dengan salah satu benda yang ada dalam dunia . Anaximenes berkeyakinan bahwa yang merupakan unsur kenyataan yang sedalam-dalamnya adlah udara. Filuf modern yang ternasuk monisme adalah B.Spinoza, berpendapat bahwa hanya ada satu subtansi, yaitu Tuhan. 
Dalam hal ini Tuhsn dididentikkan dengan alam (naturans naturata). b. Dualiasme (Serba Dua), Aliran yang menganggap adanya dua subtabsi yang masing-masing berdiri sndiri. Tokoh-tokoh yang termasuk aliran ini adalah Plato yang membadakan dua dunia, yaitu dunia indra (bayang-bayang) dan dunia ide (dunia yang terbuka bagi rasio manusia). Rene Descrates yang membedakan subtansi pikiran dan subtabsi keluasan. Leibniz yang membadakan antara dunia dunia yang sesungguhnya dan dunia yang mungkin. Imanuel Kant yang membedakan antara dunia gejala (fenomena) dan dunia hakiki (naumena). c. Pluralisme (Serba Banyak) Aliran yang tidak mengakui adanya satu subtansi atau dua subtansi melainkan banyak subtansi. Para filsuf yang termasuk pluralisme diantaranya Empedokles yang mrnyatakan bahwa hakikat kenyataan terdiri atas 4 unsur, yaitu udara, api, air, dan tanah. Anaxagoras yang menyatakan bahwa hakikat hakikat kenyataan terdiri atas unsur-unsur yang tidak terhitungg banyaknya, sebanyak sejumlah sifat benda dan semuanya dikuasai oleh suatu tenaga yang dinamakan nous. Dikataknnya bahwa nous adalah suatu zat yang paling halus yang memiliki sifat pandai bergerak dan mengatur.
Ontologi PGMI Dalam Prespeksi Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan ternyata merupakan sebuah dunia yang memiliki karakter dasar, prinsip, dan struktur yang kesemuanya itu menentukan arah dan tujuan pemanfaatan ilmu. Karakter dasar, prinsip dan struktur ilmu pengetahuan dibangun oleh para pendiri sains modern, dimana pada saat itu para pendiri sains modern menyadari bahwa hidup manusia memiliki tujuan yaitu membangun peradaban ummat manusia dan untuk mencapai tujuannya itu manusia membutuhkan alat. Dan alat itu adalah ilmu pengetahuan. Ontologi ilmu pengetahuan dalam filsafat ilmu adalah suatu yang sangat penting karena segi lapis terdalam dari fondasi dunia itu pengetahuan. Ia adalah sebuah ruang tempat diletakkannya “Undang-undang dasar dunia ilmu pengetahuan”. Disanalah ditetapkannya kearah manakah Sains Modern menuju dan kita sebagai seorang pengguna, sadar atau tidak adalah orang-orang yang sedang bersama-sama bergerak menuju arah yang sudah ditetapkan oleh para pendiri sains modern.
 Logika Samar merupakan pertengahan dari dua nilai biner yaitu ya-tidak, nol-satu, benar-salah. Kondisi yang ditunjukkan oleh logika samar ini antara lain : banyak, sedikit, sekitar x, sering, umumnya. Logika samar banyak diterapkan dalam kecerdasan buatan, mesin pintar atau sistem cerdas dan alat-alat elektronika. Program komputer dengan menggunakan logika samar mempunyai kapasitas penyimpanan lebih kecil dan lebih cepat bila dibanding dengan logika biner. Kata merupakan rangkaian huruf yang mengandung arti, sedangkan kalimat adalah kumpulan kata yang disusun menurut aturan tata bahasa dan mengandung arti. Di dalam matematika tidak semua pernyataan yang bernilai benar atau salah saja yang digunakan dalam penalaran. Pernyataan disebut juga kalimat deklaratif yaitu kalimat yang bersifat menerangkan. Disebut juga proposisi. Pernyataan/ Kalimat Deklaratif/ Proposisi adalah kalimat yang bernilai benar atau salah tetapi tidak keduanya. Filsafat membahas ontology. Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan-lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Sejak dini dalam pikiran Barat sudah menunjukkan munculnya perenungan ontologis, sebagaimana Thales ketika ia merenungkan dan mencari apa sesungguhnya hakikat ”yang ada” (being) itu, yang pada akhirnya ia berkesimpulan, bahwa asal usul dari segala sesuatu (yang ada) itu adalah air. Ontologi merupakan azas dalam menetapkan batas ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahan serta penafsiran tentang hakikat realitas (metafisika) . Ontologi meliputi permasalahan apa hakikat ilmu itu, apa hakekat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan itu, yang tidak terlepas dari pandangan tentang apa dan bagaiman yang ada (being) itu. Paham idealisme atau spiritualisme, materialisme, dualisme, pluralisme dan seterusnya merupakan paham ontologis yang akan menentukan pendapat dan bahkan keyakinan kita masing-masing tentang apa dan bagaimana kebenaran dan kenyataan yang hendak dicapai oleh ilmu itu membagi ontologi dalam tiga bagian: ontologi bersahaja, ontologi kuantitatif dan kualitatif, serta ontologi monistik. 

Kesimpulan
Penelitian ilmiah merupakan upaya untuk mengembangkan ilmu. Apalagi institusi pendidikan yang mengedepankan riset sebagai tolak ukur suatu perkembangan ilmu. Penelitian dalam psikologi tidak akan pernah dapat lepas dari filsafat ilmu dengan landasan ontologi, epistemologi dan aksiologinya. Penelitian psikologi yang memiliki objek formal jiwa yang dimanifestasikan dalam perilaku menarik untuk dikaji sebagai suatu ilmu. Secara epistemologi, penelitian psikologi tampaknya terjebak dalam sikap positivisme, sehingga banyak penelitian psikologi Bernard Delgauw, Peran Filsafat Ilmu Dalam Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif Peneliti mengkuantifikasi manusia dalam alat ukur, prosedur penelitian dan analisis data, akibatnya agak kesulitan memahami manusia secara utuh dan menjadi dingin. Namun dengan adanya pendekatan kuantitatif tersebut, psikologi menjadi ilmu yang tidak lagi sebatas pemikiran manusia, tetapi sudah dapat tinggal landas dalam kehidupan nyata sehari-hari.






DAFTAR PUSTAKA
Bertens, (1987), K, Panorama Filsafat modern, Jakarta: Gramedia
Sehat Sultoni Dalimunthe ,(2011), Filsafat Ilmu, Tembung, Cetakan I,2011 
Soeprapto, (2002), Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta:Liberty
Baharudin, (2013), Dasar-Dasar Filsafat, Bandar Lampung: Harakindo Publishing.  


Postingan populer dari blog ini

Haji